Negeri Burung (Cerpen)

1.jpgSebuah negeri yang sangat menakjubkan….mereka merentangkan sayapnya yang mungil ke dunia. Mereka juga tersebar di seluruh penjuru dunia ini. Mereka tidak hanya menguasai bumi, tapi juga langit. Semuanya itu mereka kuasai dalam satu waktu. Suara kicau mereka akan terdengar, ketika matahari mulai bersinar. Atau, ketika datang waktu subuh yang mengusir gelapnya malam. Burung-burung itupun akan keluar dari sarangnya. Merekalah yang telah membangunkan manusia dalam satu waktu dengan suaranya yang kecil! Mereka-pun akan pergi untuk bekerja sambil bernyanyi. Tidak ada rasa malas yang menghimpit diri mereka. Sehingga, mereka tidak tergantung kepada orang lain….

Pada suatu hari, seekor burung kecil bertanya kepada ayahnya: “Ayah, bukankah kita adalah sebaik-baiknya makhluk yang diciptakan Allah?” Ayahnya-pun menggelengkan kepala dan berkata: “Ini merupakan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada kita. Dan kita tidak boleh untuk melupakannya. Akan tetapi, nun jauh di sana, masih ada makhluk Allah lainnya yang mengaku lebih berhak untuk mendapatkan kehormatan tersebut.”

Dengan penasaran, si burung kecil bertanya: “Siapakan mereka ayah…?” Sang ayah menjawab: “Manusia.” dengan keheranan, si anak bertanya: “Manusia? Mereka yang selalu melempari sarang kita dengan batu? Apakah benar mereka lebih baik dari kita? Apakah mereka lebih berbahagia dibanding kita?” Sang ayah menjawab: “Sepertinya, benar. Secara penciptaan, mereka lebih baik dari kita. Akan tetapi, mereka tidak dapat menandingi kebahagiaan kita.”

Dengan penuh selidik, si anak bertanya lagi: “Mengapa ayah?” Sang ayah menjawab: “Karena, di dalam perutnya terdapat duri yang selalu menusuk dan membuat mereka tersiksa.” Dengan sangat terharu, si anak berkata: “Kasihan sekali! Siapa yang berani meletakkan duri tersebut di dalam perutnya?” Sang ayah menjawab: “Diri mereka sendiri. Duri tersebut dinamakan dengan ketamakan.”

Si anak semakin tidak mengerti. Ia kembali bertanya kepada sang ayah: “Tamak? Apa yang dimaksud dengan tamak itu ayah?” Sang ayah menjawab: “Itu merupakan sesuatu yang belum kamu ketahui wahai anakku. Bahkan, hampir seluruh penduduk negeri burung tidak mengetahui apa maknanya. Akan tetapi, aku mengetahuinya. Semuanya itu terjadi, karena aku telah lama mengamati gerak gerik manusia. Di samping, aku juga telah lebih dari satu kali tertangkap oleh manusia. Ketamakanlah yang telah membuat mereka tidak pernah merasa puas, tenang dan damai. Kita tahu apa itu makna kenyang. Akan tetapi, mereka tidak pernah mengetahuinya. Yang mereka tahu hanyalah rasa lapar. Kita bekerja untuk mendapatkan rizki. Sedangkan mereka ingin mendapatkan rizki, tapi tidak bekerja. Kita tidak mengenal tindakan pemerasan antara satu burung dengan burung yang lainnya. Tidak seperti manusia….

Seluruh burung yang ada di permukaan bumi akan keluar untuk mencari penghidupan. Mereka keluar dengan riang gembira, bernyanyi, bersungguh-sungguh dan mengikatkan tali kekerabatan. Berbeda dengan saudaranya, manusia. Mereka bukannya terbangun di pagi hari untuk bekerja, malah asyik masyuk dengan mimpinya. Mereka terbaring di atas kasur, terlentang, bermalas-malasan dan terus menguap sampai matahari naik. Sehingga, mereka tidak pernah melihat indahnya warna matahari yang keemasan atau sinar fajar yang memancarkan warna perak. Mereka juga tidak dapat menghirup udara segar…

Mereka sudah merasa puas dengan pancaran cahaya emas yang disimpan di bank-bank. Atau cahaya perak yang menghiasi peralatan kamarnya dan ketamakan yang memenuhi seluruh dadanya.

Sang ayah berhenti sejenak. Kemudian, melihat kepada putranya yang masih muda belia. Ia melihat anaknya sangat serius mendengarkan tiap-tiap kata yang keluar dari mulutnya. Seolah-olah, ia tengah mendengarkan kisah legenda khayalan….Sepertinya, anaknya tersebut antara tahu, tapi tidak percaya. Sadar, tapi tidak yakin dengan semua perkataan sang ayah. Tentu saja, karena semua itu belum pernah dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan ia belum menemukannya sendiri dalam kehidupannya yang masih baru. Ia juga belum mengalaminya sampai sekarang. Karena, ia baru melalui kehidupannya ini yang sangat pendek.

Ketika melihat hal tersebut, akhirnya sang ayah berkata kepada anaknya: “Ya…seharusnya kamu dapat melihat dengan mata kepalamu sendiri. Seandainya kamu menemui seorang manusia, maka beritahukan aku. Aku akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang akan membuatmu yakin.”

Tidak lama berselang, anak burung tadi melihat seorang laki-laki. Ia-pun langsung menjerit, memanggil ayahnya. Maka, pada saat itu sang ayah berkata kepada anaknya: “Aku akan membiarkan diriku terjatuh di tangannya. Dan kau anakku, lihatlah apa yang akan terjadi.” Dengan penuh rasa khawatir sang anak mengulang perkataan ayahnya: “Engkau akan membiarkan dirimu terjatuh di tangannya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”

Sang ayah tersenyum: “Jangan takut, aku sudah tahu sifat manusia. Dan aku tahu bagaimana cara menundukkan sekaligus berlari darinya.

Sang ayah segera meninggalkan anaknya yang masih kecil, untuk memperlihatkan kebenaran ceritanya. Sang ayah-pun berpura-pura jatuh di dekat laki-laki tadi berada. Laki-laki itu-pun segera mengambilnya dengan penuh bahagia. Ia kembali mempererat cengkraman jari-jari tangannya. Ia khawatir harta temuannya tersebut hilang.

Burung yang ada dalam genggamannya itu-pun berkata: “Apa yang akan engkau lakukan kepadaku?” Dengan sikap tamak, laki-laki tadi berkata: “Tentu saja aku akan menyembelih dan memakanmu.” Si burung yang tengah bersandiwara itu-pun berkata: “Bukankah aku tidak akan dapat membuatmu kenyang. Dengarkanlah, aku memiliki sesuatu yang lebih bermanfaat bagimu daripada harus memakanku.”

Dengan penasaran, laki-laki tadi bertanya: “Apa yang akan kau berikan kepadaku?” Burung tadi menjawab: “Aku akan memberitahukanmu tiga hal. Seandainya kamu mendapatkannya, kamu akan mendapatkan untung yang sangat banyak.” Si laki-laki tadi berkata: “Sebutkan, apa itu?” Burung tadi berkata: “Sebelum memberitahukanmu, tentu saja aku memiliki syarat-syarat. Hikmah pertama, aku akan beritahukan kepadamu, ketika aku berada di tanganmu. Hikmah ke dua hanya akan aku beritahukan kepadamu, seandainya kamu mau melepaskanku. Dan hikmah ke tiga, hanya akan aku ajarkan, ketika aku telah berada di atas pohon.”

Akhirnya, tanpa fikir panjang, laki-laki itu menjawab: “Baiklah, aku terima. Katakan, apa yang pertama…” Si burung berkata: “Janganlah kamu meratapi apa yang telah berlalu.” Laki-laki tadi bertanya lagi: “Dan yang ke dua?” Si burung langsung meminta janji laki-laki itu: “Engkau akan melepaskanku atau tidak? Harus sesuai perjanjian…” Akhirnya, laki-laki tersebut melepaskan burung yang ada dalam genggamannya. Burung itu-pun berdiri di atas gundukan tanah, di samping laki-laki tadi, dan berkata: “Hikmah yang ke dua: “Janganlah kamu mempercayai segala sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, burung itu-pun terbang ke atas pohon sambil berteriak: “Wahai manusia lalai…seandainya engkau menyembelihku, niscaya kamu dapat mengeluarkan dari tembolokku dua mutiara. Tiap-tiap satu mutiara beratnya sama dengan dua puluh kilo gram mutiara biasa.”

Saking kagetnya, laki-laki tadi menutup mulutnya dan terdiam untuk beberapa saat merasakan kerugian yang tidak terhingga itu. Kemudian, ia melihat ke burung tadi. Tapi, ia telah bertengger di atas pohon dan menyebutkan syarat-syaratnya. Akan tetapi, laki-laki itu berusaha untuk mempertanyakan hikmah selanjutnya dengan suara yang terluka dan sakit hati, ia berkata: “Lalu bagaimana dengan hikmah yang ke tiga?”

Dari atas pohon, burung tadi tersenyum merasakan kemenangan: “Hai manusia tamak! Rasa tamakmu telah membuatmu buta. Sehingga, engkau lupa dengan hikmah ke dua. Lalu, bagaiman mungkin aku dapat mengabarkan hikmah yang ke tiga? Bukankah sudah kukatakan, janganlah kamu meratapi apa yang telah lalu, dan jangan mempercayai segala sesuatu yang tidak mungkin terjadi….sesungguhnya daging, tulang, darah dan buluku tidak mencapai dua puluh kilo. Lalu, bagaimana mungkin di dalam tembolokku ada dua permata yang berat masing-masing dua puluh kilo?!”

Pada saat itu, mimik wajah laki-laki itu sangat lucu….bisa-bisanya seekor burung mempermainkan manusia…Akhirnya, sang ayah berpaling kepada putranya yang masih kecil sambil berkata: “Sekarang…kamu telah melihat dengan mata kepalamu sendiri?!” Si anak yang dari tadi memperhatikan tingkah laku dan gerak-gerik laki-laki itu berkata kepada ayahnya: “Ya…akan tetapi, aku tidak tahu, apakah aku sedang menertawakan atau, menangisinya!…”

Referensi

Novel Arinillah By Taufiq El Hakim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s